Kehilangan Indra Penciuman

Kehilangan Indra Penciuman

Orang yang kehilangan indra penciuman dan perasa merupakan salah satu tanda-tanda paling pasti terinfeksi Covid-19. Anosmia juga sanggup menjadi menandakan baik bagi pasien Covid-19. Di awal tahun 2021, dua penelitian internasional mengonfirmasi bahwa sebagian besar orang yang terinfeksi Covid-19 mengalami tanda-tanda anosmia atau hilangnya indra penciuman dan perasa untuk sementara waktu. Jika kalian sudah terpapar COVID-19 alangkah baiknya melakukan isolasi mandiri dirumah sambil memainkan judi slot online di Situs Judi Slot Online Deposit Pulsa Tanpa Potongan agar tidak merasa jenuh.

Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa anosmia dikarenakan Covid-19 merupakan indikator paling baik dari paparan virus corona. Bagi banyak orang, kehilangan penciuman dan pengecapan sangat parah, sanggup memakan waktu hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan sebelum indra kembali normal. Pahami langkah mengembalikan indra penciuman yang hilang akibat infeksi virus corona penyebab Covid-19.

Anosmia

Cara mengembalikan indra penciuman yang hilang dikarenakan Covid-19 ini sanggup dikerjakan sendiri tanpa obat dan perlindungan dokter. Salah satu langkah mengembalikan indra penciuman yang hilang dikarenakan Covid-19 adalah lewat olfactory training atau smell training (latihan penciuman). Adapun anosmia atau hilangnya kapabilitas indra penciuman adalah keliru satu tanda-tanda khas pasien Covid-19. Ini adalah keadaan saat seseorang kehilangan fungsi penciumannya secara sementara, yang pasti sangat menyebalkan dan menyedihkan rasanya sama seperti ketika BOOM Esport kehilangan pemain andalan nya.

Bedanya Anosmia Gejala COVID-19 dengan Flu Biasa

Para peneliti dari Eropa sudah mempelajari tanda-tanda yang dialami pasien COVID-19 mengungkap bahwa tanda-tanda anosmia yang sanggup menyertai penyakit COVID-19 miliki ciri yang unik dan berbeda dari yang dialami oleh orang yang sedang mengalami demam atau flu parah. Berikut ini bedanya anosmia yang menjadi tanda-tanda COVID-19 dengan tanda-tanda flu biasa:

  • Muncul Secara Tiba-tiba

Hal pertama yang membedakan anosmia yang menjadi tanda-tanda COVID-19 dengan flu adalah anosmia akibat COVID-19 cenderung muncul secara tiba-tiba dan parah. Gejala anosmia kebanyakan muncul kira-kira 2 hingga 14 hari sehabis terpapar virus corona.

Namun, tanda-tanda tersebut kebanyakan berlangsung secara tiba-tiba, walaupun anda tidak mengalami kasus gangguan pernapasan. Sementara itu pada kasus flu, anosmia kebanyakan dimulai dengan hidung meler atau tersumbat yang sanggup menghilangkan kapabilitas penciuman kamu.

  • Disertai dengan Gejala Dysgeusia

Selain itu, anosmia yang berlangsung akibat virus corona juga cenderung parah. Studi yang dipublikasikan didalam jurnal Rhinology yang mencoba mencari perbedaan antara anosmia pada COVID-19 dan pilek, meneliti kapabilitas penciuman dan pengecapan pada 10 pasien COVID-19, 10 pasien flu atau pilek, dan 10 orang sehat. Hasilnya adalah hilangnya fungsi penciuman pada pasien COVID-19 lebih parah. Anosmia pada pengidap COVID-19 juga disertai dengan tanda-tanda dysgeusia, yaitu hilangnya kapabilitas indra pengecap didalam merasakan makanan, khususnya membedakan rasa pahit dan manis.

Sementara itu pada pasien pilek, menurunnya kapabilitas indera pengecap tidak terjadi. Hanya sedikit pasien pilek yang mengalami penurunan fungsi indra pengecap, tapi mereka masih sanggup membedakan rasa pahit dan manis. Para pakar menduga tanda tanda dysgeusia pada pasien COVID-19 berlangsung dikarenakan virus corona merubah sel-sel saraf yang terlibat dengan sensasi penciuman dan rasa.

  • Bukan Disebabkan oleh Hidung Tersumbat

Perbedaan lain antara anosmia pada COVID-19 dan pilek adalah hilangnya indra penciuman pada sementara flu disebabkan dikarenakan hidung dan saluran napas tersumbat. Sementara anosmia yang berlangsung pada pengidap COVID-19 dikaitkan dengan sistem saraf pusat.

Profesor Carl Philpott dari University of East Anglia’s Norwich Medical School, mengungkap bahwa virus corona awalnya udah diketahui sanggup merubah sistem saraf pusat berdasarkan tanda-tanda neurologis yang dikembangkan oleh sebagian pasien. Penyakit tersebut mirip dengan SARS yang dilaporkan sanggup masuk ke otak lewat reseptor bau di hidung. Jadi, anosmia yang berlangsung pada sebagian pengidap COVID-19 dikira mengenai dengan pengaruh virus tersebut pada sistem saraf pusat.

Itulah perbedaan tanda-tanda anosmia COVID-19 dengan flu biasa. Bukan hanya anosmia, pengidap COVID-19 juga akan mengalami sebagian tanda-tanda lain yang menyertai. Mulai dari demam, menggigil, napas menjadi lebih pendek, kesusahan bernapas, kelelahan terus-menerus, nyeri otot dan sendi, sakit kepala, sakit tenggorokan, hidung berair, mual, muntah, dan diare. Jika anda mengalami sebagian tanda-tanda diatas, segera lakukan kontrol pada rumah sakit paling dekat untuk memastikan penyebab anosmia.

Jangan lupa lakukan isolasi independen sambil tunggu hasil pemeriksaan. Selain dikarenakan infeksi influenza, anosmia kebanyakan juga dialami oleh seseorang yang miliki alergi yang mengakibatkan masalah penciuman berkepanjangan. Tetap melakukan prosedur 3M yaa jika ingin berpegian yaitu Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan agar terhindar dari COVID-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *